WELCOME

Jumat, 17 Desember 2010

JON

“Jon, bangun jon !” ucap Akri agak keras.
Sambil membuka mata sedikit demi sedikit, Jono menjawab dengan sangat pelan, “ iya kri, ada apa?”
“Pindah yuk Jon ! ini pak Bakri udah mau buka, bawa tu gitar !”
“yok” sahut Jono sambil beranjak berdiri sembari mengusap beberapa tahi matanya.
“Ayo, buruan ! “ teriak Akri yang sudah sedikit berlari.

Itulah keseharian dua orang bocah yang setiap hari berjuang, memperjuangkan diri mereka sendiri.

( terdengar suara klakson- klakson bus dan kerumunan orang- orang ). Dari emper toko Pak Bakri, berjalan, dan sampailah di terminal mendolo, yang menjadi gudang emas bagi Jono dan Akri.

“Permisi pak, bu, mas, mbak, paklik, bulik, mbah, saya disini akan menghibur anda- anda sekaliyan, semoga selamat sampai tujuan dan selamat menikmati suguhan kami, music anak jalanan.” Ucap Jono yang juga membawa gitar bersenar 3 atau yang biasa disebut kencrung kesayangannya.

(Crung,crung,crung) dengan pede mereka berdua langsung menyanyikan sebuah lagu favoritnya bersama- sama.

Kau pun menghilang ditelan malam
tinggalkanku sendiri berharap
kau pun tlah pergi tinggalkan luka
tinggalkanku sendiri berharap kau kembali

 sedikit penggalan lagu favorit mereka yaitu lagu dari KARTOS, grup band lokal setempat, yang selalu mereka nyanyikan setiap pentas di panggung beroda empat. Dan lagu itupun yang sering membuat hoki mereka untuk mendapatkan penghasilan pada mereka berdua.
Jono sebagai kencrungist, Akri sebagai vokalis sekaligus penarik uang penumpang.
Dari satu panggung, ke panggung lain, terus mereka jalani dengan riang gembira. Kadang sampai malam dan tidak pulang berhari- hari bahkan bertahun- tahun. Karena mereka memang tidak punya rumah.

“Jon !” panggil Akri.
“Gimana kri, hasil kita hari ini ?”
“Lumayan banget ne Jon ! gila !
“wah,wah,wah . Alhamdulillah . beli rokok kri ! “
“Woke, kamu apa Jon ?”
“bebas, yang penting murah dan awet. Whaha “
“betul, betul “
“ya udah sana ,buruan ! “

“Ini Jon “
Dirokoklah kedua batang rokok itu oleh mereka berdua .
Duduk di tepi jalur pemberangkatan, menikmati asap- asap penyakit hasil mereka hari ini, menyelami kebisingan bising di keramaian, tak lelah, tak putus asa, selalu ceria, menikmati bersama suka duka, hampir 5 tahun mereka selalu melakukan hal yang sama, sekarang mereka berkisar 12 tahun.
Seminggu telah berlalu, merekapun masih melakukan hal yang sama.
“Jon, bangun ! Pak Bakri mau buka ! “ kebiasaan Akri tiap pagi.
“ Woyo ! “ Jawab Jono sambil bangun.
“Jon, Jon ! cepetan ! itu purwokerto mau berangkat ! “
“Iya”
“ya cepet ! “
“woyo !”
“woya woyo woya woyo ! buka tuh mata ! dasar pabrik tahi mata !”
“awas kamu kri ! dasar pembeli tahi mata ! haha “
“enak aja ! “
“udah, katanya suruh cepet, ! tuh naek !

“ Pak, pak ! ngamen ya ? “ sedikit teriak Akri.
“Woyo !” Jawab bapak kernet kumis tipis.
“Halah ! udah berapa kali aku denger kata woyo hari ini, padahal ini baru jam 8 pagi .”

Jono dan Akri mulai beraksi kembali, panggung indoor besar beroda empat yang setiap saat memberikan mereka berkeping- keping logam .
Kembali keterminal, jam agak kecil di suatu agen bus menunjukkan pukul 17.30 .

“Udah sore ni ,kri “ udah yuk ! “
“bentar lah Jon ! sisa hasil hari ini belum cukup buat makan besok !”
“aku udah capet kri, lagian besok pagi kan kita muter lagi ! “
“Terserah kamu aja Jon ! kalo kamu gak mau, aku bisa sendiri kok !”
“Kri, ya jangan gitu lah ! namanya kamu gak peduli sama temen !”
Sambil berlari kecil dan menghadap ke Jono yang ada dibelakangnya, Akri berkata dengan keras “Cemen kamu, Jon ! Lagian siapa yang mau peduli sama temen yang suka tidur dan cemen kayak kamu ! pecundang kamu ! “
“Anjing ! bangsat kamu kri !”
Akri dengan tak peduli langsung naik ke panggung seorang diri.

Selang setengah jam lamanya, ramai orang di depan televisi kecil di sebuah loket agen bus.
Berlarilah Jono menuju kerumunan itu, dilihatlah sebuah bus membalik 180 derajat dengan pohon besar di muka bus yang meremukkan separuh lebih bus.
Sangat menyedihkan, saat Jono menyusup di kerumunan dan sampailah didepan televise kecil itu, tidak lama Jono sampai di depan televise tiba- tiba.
“Akriiiiiiiiii !!!! “ Teriak gila Jono. Langsung lari menuju bus sejurusan dengan bus Akri.
“Pak, ngamen !”
“Maaf dek, gak boleh !”
“Pak, tolong !”
“di bilang gak oleh, ya gak boleh !”
“anjing ne botak ! “ dalam hati jono.
“ ya sudah pak , trimakasih, “ ucap Jono , menunduk dan sedikit menangis dia tidak percaya dia akan kehilangan teman satu- satunya yang dari kecil mereka mencari makan bersama.Jono menyesal tidak mengikuti Akri saat tadi dia berangkat.
Jono berlari tak terhenti, tak terarah,
dia terus berlari keluar terminal, terus berlari tak tahu mau kemana .

Dan akhirnya larinya terhenti oleh sebuah mobil box yang menampar tubuhnya dengan tak berperasaan, mobil box yang langsung hilang seketika seakan tak berdosa.
Tubuh kecil Jono terperosok ke parit di sebrang jalan terminal yang berakibat kulit kepala jono mengelupas, darah dan sejenis cairan kepala terus mengucur keluar.
Dikerumuni lah jasad Jono. Ditolongnya Jono oleh banyak orang, Pak Bakri pemilik toko juga ada disitu, bahkan dia yang membawa pertama tubuh Jono. Tapi walaupun banyak orang yang menolong tetap tidak tertolong nyawa Jono.
Anak kecil seumuran Jono dengan jalannya yang sedikit tertatih berjalan menuju jasad Jono dengan menangis duka. Mwnyesali semua yang di perbuatnya, mengingat semua kenangan yang bertahun- tahun di lalui bersamanya.
Dan anak kecil tersebut adalah Akri.
Bocah kecil yang selamat dari maut yang sekarang hidupnya sebatang kara ,karna harus kehilangan satu- satunya sahabat dalam hidupnya.
Sambil berlutut dia mengangkat dagunya, menghadap langit yang mulai meneteskan butir- butir air hujan. Berteriaklah dia “ JoooooooooooooooooooooooooooN !!!! “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar